“ Imagination must be used with care, it is too rapid and flies off in all direction. But drawing is slow, constructing closed and forms and solid cages. Drawing begins where word leave off … The subject becomes a drawing when words cannot represent it”
- Valerio Adami, Reflection & Confessions`
_____________________________________________________ PENGANTAR
Pameran `LINESCAPE`, paling penting, hendak menimbang kembali kekuatan garis sebagai bagian penting dalam konstruksi suatu karya. Secara umum, pameran ini ingin mengundang berbagai tanggapan , pemikiran dan kajian (ulang) tentang `apa yang kita bias artikulasikan sebgai gambar (drawing)`.
Pada masa kini yang kita sebut `post modern`, berbagai bentuk ekspresi senu rupa dikurung lautan tanda yang telah menjadi karakter hidup maysrakat kritikus dan sejarawan seni, Sanento Yuliman, mentebut era ini sebagai era `ledakan gambar`, suatu masa ketika ragam imaji (Image) berhamburan menghampiri setiap orang melalui berbagai apparatus media komunikasi dan interaksi – termasuk media massa, purblikasi, dan promosi. Penglkajian masalah budaya visual ( Visual Culture) Nicholas Mirzoeff, menandai keadaan ini sebagai manifestasi `titik balik penting era visual` (visual turn), dimana berbagai hal soal mewujud visual ( picture , image, photoghraph) termasuk berbagai hal yang sebelumnya tak pernah ada sebagai gambar ( semisal: data, ramalan , indeks dll). Ini bukan soal kondisi dimana berbagai benrtuk `komunikasi visual` telaj menemukan titik kebrhasilannya dalam suatu siklus kehidupan social. Sejak tahun 1060`an, pengamat masalah kebudayaan internasional,Guy ebord telah membayangkan datangnya suatu tatanan maysyarkat yang telah dihidupi oleh akumulasi dahsyat tontonsn visual. Ia menyebutnya sebagai kelahiran `masyarakat tontonan` (the society of spectacle). Soal `tontonan` (spectacle), yang Debord maksud, ` bukan hanya suatu bentuk kumpulan imaji-imaji; melainkan hingga maifestasi relasi social diantara masyarakat yang diperantari oleh imaji`. Kita tentu asudah tahu, pemeo sohor ; `Sebuah gambar mengatakan kepada kita beribu kat-kata` (picture tell us a thousands words`). Kita juga maklum, bahwa; komunikasi visual memungkinkan `ke-segara-an interkasi`, namun toh tak selamanya meyioapkan situasi mudah untk bias memahaminya. Selalu, setiap gambar bisa memuat sekaligus, soal: kemudahan dan takmudahan; kejelasan dan ketakjelasan; bahkan masalah makna langsung dan tak langsung. Sebuah gambar bagaimnapun, adalah ranah yang paling subur bagi `keajaiban` yang dimiliki manusai, yaitu ; imajinasi dan fantasi. Pemerhati era globalisasi dunia saat ini, Arjun Appadurai, sudah tegas membrikan kit atanda-tanda menyangkut soal itu, katanya : ‘[t]he image, the imagined, the imaginary – these are all terms which direct is to to something critical and new in global cultural processes : the imagination as a social prctice”.
Ihwal `ledakan gambar`, `budaya visual`, `masyarakat tontonan`, dan situsai `imajinasi sebagai praktek social` kini menjadi semacam rangkaian soal yang jadi cakrawala pemahaman kita secara `baru` terhadap `gambar` (picture atau image). Dan lukisan (painting); selain justru merayakannya sekaligus dalam kondisi keterkaitan dan keterpisahan antara keduanya. Atas nama kekuatan (dan `kekuasaan`) garis, saya mengundang para peserta pameran menyatakan tanggapan atas soal-soal kita bersama pada masa kini, melalui kategori-kategori yang baru kita fahami sebagai: `narasi` ( termasuk `mitos-mitos baru` ), `keberadaan` (existance) dan `identitas` (identity).
Rizki A. Zaelani / kurator pameran
Pameran akan menggunakan ukuran kanvas yang telah disesuaikan pada ukuran 100 X150cm, dengan menggunakan pensil, charcoal, acrilyc dsb, tergantung style dan gaya peluisnya sendiri. dan
berikut daftar peserta tentative terpilih di kegiatan pameran pameran ini :
| Heddy Heryadi |
| Tinton Satrio |
| Cinanti Astria.J |
| Prisanti Myristica [Isti] |
| Muhammad Reggie Aquara |
| Rangga Oka Dimitri |
| Isa Perkasa |
| A. Thoriq |
| Radi Arwinda |
| Rendra Santana |
| Rosid |
| Oco Santoso |
| Tommy Aditama Putra |